Senin, 01 Juni 2009

Kesejatian hidup

Pernahkah muncul dalam benak anda tentang akan dibawa kemana langkah kaki kecil kita di jagat raya ini? Itulah yang sering saya pertanyakan kepada diri saya sendiri.
Sudah 31 tahun saya diizinkan Tuhan untuk sekedar tersenyum,merasakan sakit, sekedar bahagia,bersenda gurau dengan anak2 saya,merasakan nafkah yang saya cari dan lain sebagainya yang mungkin kurang lebihnya sama dengan yang anda rasakan.
Apakah ini semua membuat kita bahagia?Sekali lagi pertanyaan lanjutan muncul kembali seperti pohon faktor.Ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hati saya,ingin rasanya mencari sesuatu yang benar2 membuat hati bahagia lahir dan batin,dan bahagia selamanya.Saya sadar dan mungkin anda sependapat bahwa apa yang ada di dunia ini adalah samar semata.Disini adalah sasaran antara untuk menuju sasaran utama yang lebih hakiki dan kekal adanya,apakah itu?saya sendiri sedang berusaha mendapatkannya dan berusaha mencari jalannya.
Menurut saya kehidupan ini adalah ujian,kesedihan adalah ujian ,bahagia/kepuasan adalah jua merupakan ujian yang sangat berat.Kata orang bijak kehidupan adalah sekedar " mampir ngombe "sering saya merenung terlepas dari kehingar bingaran dunia ini tentang kesejatian hidup.Apa sejatinya kehidupan ini?kesekian kali pertanyaan muncul kembali.
Sebagai umat yang beriman tentunya kita percaya kepada hari akhir,yang mungkin kita takut mendengarnya,kita takut menyongsongnya.....!Apakah kita sudah punya cukup modal untuk menjalaninya?Jawaban yang mungkin kita ucapkan adalah " kita belum siap "Bagaimana menyikapinya?Mungkin ,tanpa bermaksud menggurui-kita coba laksanakan perintah agama yang kita percayai masing2,selain itu berbuat yang terbaik dalam kehidupan ini.
Saya pernah ngobrol dg beberapa teman sekolah saya dulu," Dik!sebagai manusia kita harus jujur,sabar,berbudi luhur,andap asor"dan lain sebagainya yang menurut kata hati saya memang betul adanya.Dalam kehidupan riil yang saya jalani saat ini ,sebagai seorang kepala keluarga,sebagai anggota masyarakat,apalagi yang berhubungan dg profesi saya sebagai guru bagi para anak bangsa yang ingin mendedikasikan jiwa dan raganya bagi bangsa Indonesia melalui bidang militer adalah tantangan yang harus jawab.Dan didalamnya terkandung nilai2 moral yang sangat berat untuk saya lakukan.Saya percaya ilmu yang bermanfaat adalah salah satu amalan yang tak akan putus sampai akhir nanti.
Dilingkungan saya bekerja sebetulnya merupakan institusi yang mungkin dianggap "enak" oleh sebagian anggota TNI yang lain,karena tugas pokoknya adalah mendidik pemuda terpilih untuk dijadikan prajurit pengawal bangsa.Lain dengan mungkin satuan lain yang berat beban tugas yang diemban dipundaknya,itulah yang saya katakan tadi bahwa saya berusaha menunaikan tugas mengajar saya sebaik mungkin dengan niat memberikan yang terbaik sesuai bidang saya.
Saya pernah punya seorang Komandan yang selalu saya ingat dan membekas dalam sanubari saya sampai saat ini.Saya ingin seperti beliau, bukan pangkatnya yang saya jadikan motivasi tapi keikhlasan,totalitas,keberanian,visi serta dedikasi yang tak kenal lelah membuat siswa maupun anggotanya terbuka mata bahwa "inilah yang seharusnya!!!"
Saya sadari bahwa jauh sekali saya dari kata sempurna karena memang kesempurnaan hanya milikNya,tetapi paling tidak saya bekerja dengan niat yang tulus untuk memberikan yang terbaik bagi bidang saya.Apakah saya terlalu muluk berangan2?Saya jawab dengan tegas "tidak!"Karena setiap orang harus punya pendirian yang jelas,tidak terombang ambing oleh ombak yang menderu.Yang selalu terngiang dalam benak saya adalah "jangan seperti katak dalam tempurung",itu yang dikatakan beliau kepada kami anggotanya.Memang benar kalau kita nalar betul2 kaitannya kita notabene adalah guru militer yang selalu digugu dan ditiru oleh anak didik(prajurit siswa).Secara tidak sadar memang kadang timbul dalam hati rasa sombong bahwa kita adalah paling disegala hal,tapi kenyataannya memang kita belum sempurna.Kita kalah dari yang lain dalam bidang tertentu baik ilmu maupun ketrampilan.
Terima kasih adalah kata yang patut saya utarakan kepada beliau,kurang lebih 6 tahun semenjak beliau pindah itu baru saya rasakan,tapi itu suatu keterlambatan bagi saya untuk menyadarinya.Tapi bagi saya terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali he..he..
SALAM HORMAT KOMANDAN
Kembali ke pokok permasalahan yang saya utarakan diawal tulisan saya tadi,bahwa segala sesuatu apapun bentuknya merupakan jembatan untuk membantu kita menemukan kesejatian hidup,kesejatian diri sebagai seorang insan apapun latar belakang serta bidang yang digelutinya.Harta,tahta,jabatan adalah merupakan titipan yang Kuasa itu semua adalah amanah apapun pangkat , jabatan ,pekerjaan yang kita emban.Semua sudah diatur serapi mungkin dengan rahasia yang terkandung didalamnya.Petani,tukang becak,pemulung,pengemis,prada,kopral,dan lain2 bidang dan peran itu semua adalah harus kita hormati,kita syukuri dalam menjalaninya.Jangan pernah memandang remeh seseorang yang bidangnya mungkin dibawah kita,jangan pernah menganggap hina seseorang hanya karena penampila,baju yang dipakai,kendaraannya,wajahnya dan lain sebagainya karena yang berhak menilai adalah Tuhan semata.Mari kita bersama2 belajar dan sama 2 mencari kesejatian hidup untuk bekal akhir nantinya,tak ada yang sempurna dimuka bumi ini .
Akhirnya mari kita dengar dan rasakan angin yang menerpa dan berbisik ditelinga kita,kita dengarkan alunan musik malam dalam kesunyian,kita rasakan cahaya bulan yang bersinar disaat malam....matahari diwaktu siang...kocehan burung yang berkicau...ayunan daun di pepohonan...dan kita rasakan serta syukuri nikmat yang Tuhan berikan kepada kita.Jangan pernah menutup mata kepada sekeliling kita...jangan pernah enggan untuk berbagi...jangan pernah menutup telinga keluhan "mereka"Mari(terutama buat saya) kita cari kesejatian hiduupp......

" Betapa kecilnya dunia ini bagi seorang yang meletakkan
tangannya di antara wajahnya dan dunia,
dan yang bisa ia lihat hanyalah
garis2 pendek
pada tangannya"

dikutip dari "HIKMAH2 KEHIDUPAN"
dari Kahlil Gibran

6 komentar:

  1. Tulisan Pak Didiek sangat menyentuh. Untuk kesekian kalinya saya sampaikan, tidak semua tentara memiliki pemikiran 'sedalam' itu tentang kehidupan. Salut!
    Saya akan terus belajar untuk selalu berbuat bagi lingkungan. Tanpa mereka, bekal kita sebagai manusia tidak akan sempurna. Salam untuk keluarga ya, terus menulis Pak Didiek, supaya banyak ide yang bisa dibagi :)

    BalasHapus
  2. Terima kasih ibuk masih sudi meluangkan waktu di blok kami,saya sendiri masih belajar ...
    Kami tunggu koreksi serta sarannya.

    BalasHapus
  3. Kok belum menulis lagi, pak Didiek?
    Saya tunggu posting berikutnya...

    BalasHapus
  4. Salam hormat buk,terima kasih motivasinya

    BalasHapus
  5. pak Didiek saya pak Asrobudi, Alhamdulillah pak Didiek menyadari akan tugas dan tanggung jawab jabatan kita
    percayalah pak Didiek, Tugas adalah : Kehormatan, Harga diri dan Kebanggaan, ...
    Salam untuk keluarga !
    Bersiaplah yang terburuk dan berharap yang terbaik
    30396 pada 042005 JUN 2009

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah!! suatu kehormatan yang luar biasa bagi saya Pak Asro berkenan memberikan masukan yang sangat berarti buat saya,sebetulnya saya minder dg tulisan2 yg saya buat, sebab jauh dari kata " berbobot ".Tapi sekali lagi saya ingin banyak belajar...utamanya dari figur seperti Pak Asro.
    Salam hormat teruntuk Pak Asro dan keluarga...

    BalasHapus