Rabu, 01 Juli 2009

Mata jendela hati

Cahaya sejati adalah cahaya yang berasal dari dalam diri manusia dan cahaya itu mengungkapkan rahasia-rahasia hati kepada jiwa,membuatnya bersukacita dan bahagia bersama kehidupan.


Orang bilang mata adalah jendela hati,apakah benar demikian adanya?Seiring bertambahnya usia kita,pengalaman hidup yang naik turun,persuaan dengan manusia lain tentunya kita bisa menjawab pertanyaan itu.Tetapi kadangkala sesuatu bisa dimanipulasi,tawa bisa dimanipulasi,tutur kata bisa dimanipulasi,kebaikan bisa dimanipulasi dan segala hal bisa dimanipulasi.Itulah hidup sulit ditebak,kita tidak tahu seberapa dalam hati orang,hanya satu yang pasti "mata tidak bisa berbohong"

Itulah mata,mewakilai kedalaman jiwa.Dalam situasi dewasa ini sulit sekali menemui pertemanan yang didasari keikhlasan,ketulusan sepenuh jiwa untuk menjadi seorang shohib.Adakalanya orang berbuat baik terhadap kita tapi nyatanya ada maksud tersembunyi dibaliknya,baru setelah kita terpuruk dan hancur semua jadi jelas mereka menjauhi kita.Dari sini bisa kita nilai,disaat kita jaya mereka ada didekat kita tetapi saat kita terpuruk mereka menjauhi kita.Saya senang orang yang jadi dirinya sendiri,apa adanya dan tidak dibuat buat.

Memang pertemanan butuh waktu dan perlu diuji,sebagai manusia yang punya derajat sama dimata Tuhan kita seyogyanya menghargai orang seperti menghargai diri sendiri,kita tidak sempurna,kita saling melengkapi.Dengan bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain tentunya kita saling memahami dan berjalan bergandengan tangan menuju kebaikan bersama.

Pada dasarnya manusia butuh pengakuan dari orang lain dalam segala hal:agar kita dianggap baik,dianggap peduli,dianggap paling ter...dan lain sebagainya.Itulah kenyataannya dalam kehidupan ini yang saya temui.Terlepas dari itu semua saya juga sering menemui orang-orang yang tulus dalam segala hal ,tidak butuh penilaian dalam segala kebaikannya.Ikhlas dalam membantu,ikhlas menuntun kita,ikhlas memberikan kelebihan yang kita tidak punya untuk sekedar melengkapi kekurangan dan keterbatasan kita.Dalam hal ini saya tidak berbicara mengenai materi kebendaan tapi cenderung kepada pesan untuk jiwa dan moral.

Ada saatnya diam itu emas,ada saatnya duduk seperti kucing berdiri seperti harimau.Itu tergantung kita bagaimana kita memilihnya dan dari sisi mana kita memandangnya.

Yang pasti dalam setiap pertemanan mari kita ulurkan tangan untuk sekedar berjabat tangan dengan ikhlas dan tulus tanpa didasari warna dan muatan yang menyertainya,mari kita saling berbagi hanya tuk sekedar melengkapi.Alangkah indahnya dunia bila semua dalam ketulusan dan cinta dilandasi cahaya jiwa.......

2 komentar:

  1. Betul sekali, banyak teman yang bersilaturahmi karena pamrih. Padahal bila kita berteman dengan tulus, maka kemudahan akan datang tanpa diduga. Sebaik-baik skenario manusia, yang akan terjadi adalah 'skenario' Tuhan Yang Maha Besar...
    Posting yang bagus, Pak Didiek!

    BalasHapus
  2. Terima kasih,akan saya ingat pesan ibuk :)

    BalasHapus